Review Film Wrath of Man: 1 Perampokan, 3 Sudut Pandang

Play Stop Rewatch, Jakarta – Film Wrath of Man menambah daftar panjang film “bapak-bapak ngamuk” di Hollywood, menemani Taken, John Wick, Nobody, dan masih banyak lagi. Kisahnya serupa tapi tak sama, tentang pembalasan atas terbunuhnya anggota keluarga. Namun, ada satu hal yang membuat Wrath of Man menonjol dibanding ‘kompatriot’-nya: Storytelling.
FIlm kolaborasi keempat sutradara Guy Ritchie dan aktor Jason Statham ini tidak menekankan pada bagaimana pembalasan dilakukan, tetapi rangkaian peristiwa menuju hari pembalasan itu. Alhasil, penonton yang mengharapkan gun-blazing moment di paruh kedua mungkin akan kecewa dengan Wrath of Man. Wrath of Man cenderung lebih ‘minimalis’ dibanding film-film Ritchie selama ini. Namun, bagi yang mencari cerita, Wrath of Man menawarkan perburuan yang intense dan multi-perspektif.
Multi-perspektif menjadi kata kunci di sini. Menggabungkan teknik bercerita yang dipakai Rashomon (1950) dan Citizen Kane (1941), kisah Wrath of Man disampaikan dari tiga sudut pandang berbeda. Semua terkait satu peristiwa yang sama, namun masing-masing tokoh di film ini memiliki peran yang spesifik pada peristiwa itu. Bak kepingan puzzle, masing-masing perspektif memberikan informasi baru yang pada puncaknya menegaskan kenapa pembalasan di film ini lebih kompleks. Ada unsur error of judgement.
Kisah Wrath of Man dibuka dengan aksi kriminal. Sekelompok pria bersenjata merampok mobil baja Fortico yang tengah berkeliling untuk mengantar uang ke bank. Berlangsung selama beberapa menit, perampokan tersebut diperlihatkan dari dua sisi. Keduanya adalah kamera mobil Fortico dan percakapan radio antar perampok.
Secara sengaja, Wrath of Man menutupi detil apa saja yang terjadi selama perampokan. Kamera depan mobil hanya mampu menangkap aksi para perampok ketika menguras isi mobil, membunuh dua pegawai Fortico, dan kabur. Sementara itu, percakapan radio mereka mayoritas berisi koordinasi perampokan. Namun, di akhir percakapan radio, terdengar ada satu korban ekstra di perampokan tersebut.
Dari aksi perampokan, kisah Wrath of Man langsung terbagi menjadi tiga bagian dengan timeline yang saling beririsan satu sama lain. Kisah pertama mengambil waktu lima bulan sesudah perampokan dengan tokoh utama Hill atau H (Jason Statham). Datang dari Inggris, H direkomendasikan untuk bergabung ke Fortico sebagai sopir mobil.
Hasil uji masuk yang biasa-biasa saja membuat H diremehkan oleh sejumlah koleganya di Fortico. Namun, segalanya berubah ketika mobil Fortico kembali dirampok dan H menghabisi semua pelakunya satu persatu tanpa ampun, tanpa cela. Ia langsung dipromosikan karena aksinya, menjadikannya figur yang dihormati di Fortico. Namun, bagi H, hal itu memberinya ruang untuk menyelidiki pembajakan lima bulan sebelumnya. Anaknya tewas di event itu.
Kisah kedua disampaikan dari sudut pandang seorang gangster bernama Mike (Darrell D’Silva). Di hari perampokan, ia bertugas mengkoordinir timnya untuk mengawasi rute perjalanan mobil baja Fortico. Mendapati isi mobil itu dirampok di bawah pengawasannya, Mike kena tegur bosnya yang kemudian menyuruhnya mengobok-obok kelompok gangster lain, mencari tahu siapa pelaku perampokan.
Kisah terakhir menampilkan sekelompok veteran militer pimpinan Jackson (Jeffrey Donovan). Kesulitan hidup normal usai menyelesaikan dinas perangnya, Jackson mengajak pasukannya untuk merampok mobil-mobil pengantar uang. Menurut Jackson, itulah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan sekarang untuk mendapat uang dalam waktu singkat. Namun, ia memberi batasan kepada anak buah yang akan melakukan tugas kotornya, “jangan membunuh”.
Seperti yang bisa dilihat, ketiga plot menawarkan perspektif berbeda terkait perampokan mobil Fortico yaitu sebelum, saat, dan sesudah. Masing-masing memiliki kisahnya sendiri, namun saling melengkapi satu sama lain. Seperlima terakhir film adalah tersusunnya kepingan-kepingan “kesaksian” dari tiga cerita yang ada, mengungkap secara lengkap apa yang terjadi di hari perampokan. Kenapa anak H berada di lokasi kejadian, kenapa Mike gagal menyetop perampokan, kenapa terjadi pembunuhan, semua akan terjawab.
Wrath of Man berhasil menyeimbangkan ketiga kisah dengan baik. Tidak hanya intense dan membetot emosi, tetapi juga sesekali membuat kami menahan nafas berkat laga yang ditampilkan. Meski ada sedikit issue dalam tempo bercerita yang terkadang bisa terasa draggy, Guy Ritchie menutupinya dengan ‘pukulan-pukulan’ menohok untuk menjaga tensi dan atensi penonton.
Jason Statham, yang menjadi headliner dari film ini, seperti biasa memerankan tokoh yang serba bisa. Jika kalian sering menonton film-film laganya, basically dia memerankan tokoh yang relatif sama dengan sedikit perubahan di sana-sini. H hanya lebih stoic saja di mana menggarisbawahi amarah (wrath) yang dipendam olehnya. Sejujurnya penulis mengharapkan karakter Statham yang lebih talkative, a bit witty, seperti film-film awal dia bersama Guy Ritchie.
Overall, Wrath of Man menunjukkan bahwa film “bapak-bapak ngamuk” bisa terasa segar dan berbeda, tidak perlu melulu menonjolkan laga. Itu hanya perkara niat dan kreativitas saja. Guy Ritchie mengambil keputusan tepat ketika menerapkan pendekatan storytelling ala Rashomon dan Citizen Kane di mana penonton menjadi lebih aktif dalam menyusun cerita yang ada. Ketika kepingan-kepingan puzzle itu akhirnya tersusun, penonton mendapat kisah komplit, ditutup dengan gun-blazing moment yang well-deserved.

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *